Untuk Apa Aku Belajar dan Bekerja?

Rabu, 09 Juli 2014

kalau niat sekolah dan belajarnya cuma untuk cari duit gak heran kita punya banyak koruptor
Belajarlah yang bagus, biar dapat kerjaan bagus dan gaji yang bagus. Begitulah yang dikatakan orang tua ketika saya masih berada di bangku sekolah. Tampaknya orang tua telah memposisikan pendidikan di urutan pertama tempat mereka mempercayakan masa depan anaknya untuk anaknya. Dengan pendidikan yang lebih baik si anak diharapkan dapat bertahan di persaingan ketat zaman modern dan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk pekerjaan yang bagus dengan gaji yang bagus pula tentunya.


Kini gaji (baca:uang) telah menjadi tujuan utama sebagian besar orang-orang modern yang ingin bertahan hidup alih-alih berburu, memancing dan bercocok tanam seperti yang dilakukan nenek moyang kita dulu. Walaupun berkata uang bukanlah segalanya tapi mereka tetap mengakui rasa butuh terhadap uang itu ada dan cukup besar untuk membuat mereka takut saat persediaannya mulai menipis. Karena dirasa penting, rasa butuh terhadap uang ini kemudian diwariskan orang tua kepada anaknya dengan harapan mereka akan cukup tangguh untuk mencarinya dan dapat bertahan hidup kelak. Hal ini sebenarnya sah-sah saja selama rasa butuh itu tidak mengganggu aspek lain dalam kehidupan itu sendiri. Sayangnya tidak demikian adanya. Tercemarnya dunia pendidikan dan kerja adalah buktinya.

Menurut ####, Pendidikan pada hakikatnya bertujuan untuk: Pertama, membantu manusia mengetahui cara mengelola dan merawat alam. Termasuk didalamnya pada pengembangan nilai dan pemanfaatan alam semesta. Kedua, membentuk dan memperbaiki moral dalam hubungan sesama manusia yang mencakup bagaimana berkeluarga, bermasyarakat, bersosial, dan politik. Dan ketiga, menumbuhkan nilai-nilai religius dalam diri manusia sebagai makhluk yang beragama dan ber-Tuhan. Dengan mengenyam pendidikan, seorang manusia diharapkan dapat dengan layak mengisi posisi penting di berbagai lapangan pekerjaan yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan-tujuan mulia diatas.

Namun sepertinya bukan demikian masyarakat memandangnya. Ada pandangan di masyarakat bahwa keharusan mencari pekerjaan adalah karena adanya rasa butuh akan uang yang bersifat sangat lokal dan individual. Pekerjaan tidak lagi dianggap sebagai wadah pengabdian yang penuh ketulusan tapi sebagai ladang tempat usaha dan meraup keuntungan. Pendidikan yang harusnya dijalani untuk eksplorasi ilmu dan pemberdayaan alam, sekarang dilalui sekadar untuk mencari pekerjaan dan gaji tiap bulannya.

Ini terlihat dari keraguan para orang tua saat pendaftaran SBMPTN tiba. Saat itu para calon mahasiswa akan berdiskusi dengan orang tuanya tentang jurusan apa yang sebaiknya ia pilih. Saat itu orang tua bukannya bertanya jurusan mana yang diminati si anak melainkan berapa besar penghasilan si anak nanti.

Dengan mengharapkan penghasilan dari pekerjaan seperti ini, saat itu dalam benak para orang tua akan muncul pertanyaan-pertanyaan seperti, “Akan jadi apa anakku jika masuk jurusan ini? Apa kerjanya nanti? Berapa besar jumlah lapangan kerjanya? Dan berapa besar gajinya?” Jika sudah demikian, suatu jurusan bukan lagi dipilih berdasarkan seberapa besar minat bakat si anak melainkan seberapa besar jurusan tersebut mampu memberikan jaminan lapangan kerja dan gaji yang jelas. Mungkin karena itulah profesi dokter sering kali menjadi favorit orang tua. Sebaliknya, jurusan dengan pilihan karir lain seperti mendesain, bermusik atau bermain bola yang masa depannya relatif lebih tidak pasti akan sangat sulit mendapat restu orang tua.

Yang terjadi berikutnya adalah penyia-nyiaan potensi si anak. Anak berbakat yang seharusnya bisa menjadi desainer interior ternama yang mengharumkan nama bangsa malah masuk ke jurusan lain, misalnya keguruan, karena ragunya orang tua akan jaminan masa depannya di jurusan desain. Dampak berikutnya, akan muncul lulusan-lulusan dari jurusan seperti keguruan yang sama sekali tidak berminat dengan dunia pendidikan dan tentu tidak akan menikmati proses belajar mengajar di kelas. Untuk apa lagi mereka bekerja jika bukan demi gaji di awal bulan.


BIAYA PENDIDIKAN YANG TINGGI
Kenyataan ini diperparah lagi dengan tingginya biaya pendidikan. Masalahnya muncul ketika misalnya ada anak yang berminat dan kebetulan berbakat menjadi dokter tapi harus berhenti ketika pemilihan jurusan karena alasan klasik finansial. Contoh lain, ada seorang yang berbakat musik sejak lahir pada akhirnya harus berpaling ke jurusan lain yang tidak ia minati karena orang tuanya ragu apakah ia akan mendapat karir yang jelas dari jurusan tersebut. Singkatnya, biaya pendidikan yang tinggi telah menyaring banyak orang-orang berpotensi dari profesi impiannya sendiri. Kalau tiap tahun kita kehilangan ribuan potensi emas mereka, bayangkan berapa kerugian kita selama ini?

Akan muncul banyak orang yang sebenarnya berbakat dan bercita-cita menjadi pilot, akhirnya lulus dan diwisuda sebagai guru karena mahalnya sekolah penerbangan. Akibatnya minat dan bakat anak menjadi nomor dua dalam pemilihan jurusan dibawah kemampuan finansial orang tua, dan sasaran karir yang jelas. 

HASRAT MENCARI BALIK MODAL
Kalau pun mereka berhasil masuk jurusan tertentu karena punya sedikit uang yang terjadi adalah munculnya apa yang saya sebut “hasrat mencari balik modal”. Pekerjaan dijadikan sebagai usaha yang menuntut adanya Break Event Point. Dengan adanya hasrat ini para dokter yang baru diwisuda tidak akan terpikir bagaimana untuk mulai mengabdi tapi malah menghitung jumlah target pasien. Tentu saja kita ragu apa ada dokter yang sabar mencari gejala-gejala dan mendengarkan keluhan pasien jika ia punya target 50 pasien per hari untuk mengembalikan modal kuliahnya? Bukan tak mungkin mereka mencemari air dengan virus jika sedang sepi pelanggan seperti halnya tukang tambal ban menebar paku di jalan.

Bukannya digunakan kemakmuran, pendidikan dan pengetahuan malah digunakan untuk membodoh-bodohi dan memanipulasi orang lain. Kalau sudah begini, dimana lagi pendidikan karakter yang digaung-gaungkan itu? Tapi bukankah harusnya pendidikan membuat seseorang semakin bermoral? Ini menunjukkan dengan tingginya biaya pendidikan, rasanya kurikulum 2013 pun tak akan mampu menciptakan lulusan yang berkarakter dan mengalahkan “hasrat mencari balik modal”.


BEKERJA DEMI UANG
Jika memang uanglah alasan seseorang belajar di sekolah, tentu tak ubahnya kita seperti anak SD yang tidak mau berangkat sekolah karena uang jajannya kurang. Miris sekali kalau sekarang kita melihat betapa rendahnya martabat ilmu yang dituntut hanya demi uang.

Uang memang penting. Tapi pekerjaan bukanlah tempat yang tepat untuk mencarinya. Kenyataan bahwa uang telah memperbudak manusia modern tidak bisa dijadikan alasan untuk mengesampingkan profesionalitas kerja. Kalau pun seseorang mengharapkan gaji dari pekerjaannya seharusnya itu berada dibawah keinginannya untuk mengabdi pada negeri dan masyarakat.

Pada akhirnya pola pikir masyarakat yang mencampurkan antara mencari uang dengan pekerjaan akan menghancurkan profesionalitas dari pekerjaan itu sendiri dan mulai menggerogoti moral dan sendi-sendi masyarakat lainnya. Coba bayangkan apakah ustad yang berceramah bisa menjadi teladan jika ia mengharap imbalan dari ceramahnya? Apakah pejabat pemerintah yang menyogok ratusan juta untuk menjabat bisa dengan tenang memikirkan masalah dan mencetuskan solusi kreatif dan inovatif untuk permasalahan negeri? Tentu tidak, tidak akan muncul yang namanya profesionalitas dan inovasi jika kita masih mencampur adukkan antara bekerja dan mencari uang.

KESIMPULAN
Sudah jelas terlihat bahwa pekerjaan yang dilakukan demi uang tidak akan membawa perubahan yang baik bahkan cenderung buruk. Oleh karena itu masalah kebutuhan pencaharian harusnya dipisahkan dari kesucian menuntut ilmu dan mengenyam pendidikan. Pendidikan harus ditujukan untuk kemakmuran manusia dan alam. Dengan pendidikan yang didasari niat yang tulus kita akan diarahkan untuk bekerja lebih profesional. Kendatipun penting, uang hendaknya jangan sampai membawa kita dan mencemari tujuan suci pendidikan. Pekerjaan hendaknya tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan ekonomis tapi sebagai penyaluran minat dan bakat. Sehingga akan muncul totalitas dan niat yang ikhlas.

Adapun jalan yang tepat untuk mencari uang dan kekayaan adalah lewat perdagangan. Saya yakin ada banyak seminar wirausaha di sekitar anda. Berwirausahalah! Disanalah uang dalam jumlah besar terus beredar, seperti kata Nabi, sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah niaga.

Setelah itu semua, andai kata paradigma masyarakat telah terbuka maka ini tak akan berhasil tanpa dukungan pemerintah untuk mewujudkan pendidikan gratis hingga tingkat perguruan tinggi.


HABIB ASYRAFY
Praktisi dan Pengamat Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Feel free to Comment..
Bagi yang punya email silakan komentar pakai akunnya,
Bagi blogger atau pengunjung lainnya gunakan nama dan url (supaya bisa disapa)

 

Tulisan Populer