Kunci Sukses Belajar dan Menuntut Ilmu (1)

Sabtu, 14 September 2013

duduk ngelmu berkumpul mengelilingi guru untuk belajar dengan khidmat

Semalam aku ke Dinamika lagi (akhir-akhir ini agak sering gara-gara bisnis pinku). Karena kebetulan hari Jum’at maka aku ikut DINAMIS (Dinamika mengkaji Islam) bersama bang Muallim Irhas Pulus. Dan seperti catatanku Ikan Jumat. Catatan kali ini berisi beberapa hal yang aku yakin kamu perlu tahu.

Ini soal pendidikan. Masih ingat kan kalau aku suka membandingkan pendidikan zaman sekarang dengan pendidikan pada zaman Nabi dulu. Aku memang bingung kenapa sepertinya tokoh Islam jaman dulu lebih berhasil dan lebih banyak dari yang muncul di Indonesia sekarang. Silakan baca catatan Kenapa Sekolah kalau lupa.

Dalam pengajian tadi aku rasa aku tahu apa yang membedakan kita dengan mereka yang belajar di zaman dulu. ADAB!

Ilmu itu cahaya dan cahaya Allah tidak akan menerangi orang yang bermaksiat.
Aku dapat beberapa kisah tentang adab murid kepada gurunya dari kisah zaman Keemasan Islam dulu.

Kisah pertama
Aku agak pelupa soal nama, tapi silakan kalian cari di google, aku cuma dengar dari bang Irhas aja. Jadi ceritanya ada seseorang yang pernah belajar dan berguru kepada seorang Ustadz. Suatu ketika ia sedang duduk mendengarkan ceramah gurunya. Karena suatu hal yang sedang dilakukannya (aku tak tahu, mungkin membetulkan kaos kaki atau memindahkan kotoran di lantai) Ustadznya menyuruhnya melepaskan pecinya, karena menurutnya itu tak pantas. Maka ia melepaskan pecinya.
Kemudian si Ustadz pergi dari majlis itu dan tau-tau meninggal. Sejak saat itu si kawan tadi gak pernah pake peci lagi, saat ditanya dia bilang, “Guruku menyuruhku melepaskannya dan aku tak pernah mendengar dia menyuruhku mengenakannya lagi.” Ia pun tak pernah pakai peci lagi.

Bayangkan betapa hormatnya ia dengan gurunya? Bagaimana ilmu tak mudah masuk? Bandingkan dengan kita yang masih mau selonjoran kaki, tidak fokus bahkan mungkin mempertanyakan dan membantah guru.

Kisah kedua
Imam Syubki sedang naik unta. Seseorang berjalan di bawah di samping untanya mengikuti. Mereka bercakap-cakap. Di tengah perjalanan sampailah cerita mereka tentang Imam Nawawi.  Imam Syubki bilang ia ingin sekali bertemu dan melihat Imam Nawawi tapi sampai kini ia belum pernah. Si kawan yang tadi jalan di bawah bilang, “Lha bang, aku malah udah pernah!” (dialog ini fiktif tapi maknanya kira-kira gitulah) “Hah? Serius?” kata Imam Syubki. Dibalas lagi sama si kawan, “Iya, pernah kami duduk di satu majlis mendengarkan ceramahnya.” Lalu Imam Syubki bilang. “Kalau gitu naik kamu ke atas unta ini, biar saya yang jalan dibawah. Tidak pantas mata orang yang pernah melihat beliau lebih rendah dari mata yang tidak pernah seperti aku ini.”

Yammpun.. Luarbiasa!!! Kalau aku mungkin cuma memuji keberuntungannya karena telah bertemu orang besar dan tetap ada diatas unta. Bandingkan dengan kita yang malah lebih bangga kalau sudah bertemu artis yang modalnya cuma tampang dan suara doang. Apa hebatnya? Emang dia dijamin masuk surga?

Aku juga dapat satu pelajaran lagi. Sering kali kita lebih terfokus ke dunia sekarang ini. Waktu mengajar di MAN 1 bang irhas bertanya pada muridnya.
“kenapa kalian sibuk sekali belajar fisika dan kimia?”
“nilai” jawab siswanya.
“emang berapa kali itu dipraktekin?”
“sebulan sekali.”
Kalian paham arah pertanyaan bang Irhas? Kita terlalu sering menghapal nomor atom, nomor massa, jembatan keledai, biloks dan nama-nama atom dan persenyawaannya. Padahal cuma dipraktekin sebulan sekali. Lebih parah lagi, kalian belajar mati-matian untuk menghapal rumus gaya sentripugal di pelajaran fisika. Padahal rumus itu tak pernah kalian gunakan sama sekali waktu membelok dengan sepeda motor kalian.
“Kalau kalian sebegitunya sama hal yang cuma dipraktekin sebulan sekali, jadi kenapa bisa kita lalai sama yang kita praktekin lima kali sehari?”
Semua diem. (ngena banget)

Kalian pun mungkin diem. Iya memang. Coba Tanya diri kalian sendiri hapal tidak mana yang wajib dan yang sunnah dalam shalat? Tanya diri kalian sendiri apa bacaan waktu sujud yang wajib? Tanya diri kalian sendiri apa-apa saja rukun sujud? Lalu cek kebenarannya, kalian akan dapati kebanyakan dari kita masih salah menjawab.
Lalu kemana semua shalat kita pergi?
Aku sejak dulu berpikir ilmu Islam seharusnya dipelajari oleh seluruh muslim bukan hanya mereka yang belajar di pesantren. Rendah sekali ilmu agama kita jika baru mengingatkan shalat saja seseorang sudah dipanggil ustad.

Jadi mulai sekarang cobalah untuk lebih aware terhadap yang lebih abadi. Jangan hanya yang tampak di depan mata.
Sebarkanlah kebaikan, dapatkan pahala kebaikan itu dan pahala orang yang mengikutinya. InsyaAllah jadi investasi akhirat yang luarbiasa. Spread the message!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Feel free to Comment..
Bagi yang punya email silakan komentar pakai akunnya,
Bagi blogger atau pengunjung lainnya gunakan nama dan url (supaya bisa disapa)

 

Tulisan Populer