Integrasi Matematika Islam UINSU Terkesan-Memaksa

Rabu, 14 Oktober 2015

Habib Asyrafy Menata Visi Misi Pendidikan Matematika UIN Sumatera Utara Menuju Universitas Kelas Dunia World Class University

Sudah terlalu sering rasanya aku mendengar respon, “Emangnya di IAIN ada jurusan matematikanya ya Bib?” waktu aku katakan padanya aku berkuliah disana. Agak aneh memang tapi keilmuan islam memang (seharusnya) menyeluruh.


Dengan banyaknya cabang keilmuan keislaman yang dinaungi di bawah IAIN sekarang ini, rasanya sudah sepantasnya ia segera berubah menjadi UIN (Universitas Islam Negeri). Itu sebabnya akhir tahun 2012 lalu rektor bersama pejabat kampus, beberapa dosen (termasuk Dr. Siti Halimah, M.Pd - kajur sekaligus PSku) dan mahasiswa duduk bersama dalam sebuah lokakarya yang bertujuan mengumpulkan aspirasi semua pihak yang berkepentingan dalam membentuk Visi dan Misi UIN yang baru.

Sebenarnya aku termasuk pihak yang kurang setuju dengan perubahan ini tapi sepertinya arus perubahan tidak bisa lagi terbendung. Pada akhirnya, aku hanya bisa memberi kontribusi berupa pemikiran yang kuharap bisa menjaga ruh keislaman UIN nantinya.


Semua pemikiran yang disampaikan Prof. Dr. Amin Abdullah, MA mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, yang bertindak selaku narasumber waktu itu sebenarnya bagus sekali. Hanya ada satu hal yang menurutku perlu dikoreksi, yaitu tentang bagaimana ilmu-ilmu sains seharusnya diintegrasikan dengan ilmu-ilmu keislaman.

Berurutan dari kiri, Chandra (Ketua DEMAF Dakwah), Fauzan (Ketua DEMAF Tarbiyah), Saya, Aleslami (Sekretaris Umum HMJ Pendidikan Matematika)Dalam menyatukan dua cabang keilmuan kita mengenal istilah multidisipliner dan transdisipliner. Namun sangat disayangkan sepertinya tidak seorang pun di kampus ini yang mengerti bagaimana memahami makna kedua kata itu ketika membuka jurusan BKI (Bimbingan Konseling Islam) dan MPI (Manajemen Pendidikan Islam). Pengintegrasian ilmu sains dan keislaman yang selama ini kulihat di IAIN sungguh hanya seperti penyatuan asal-asalan yang dibuat oleh orang yang tidak mengerti benar apa yang sebenarnya coba mereka satukan.

Apa yang mereka lakukan hanya tampak seperti menabrakkan warna merah dan hijau yang notabenenya saling berkomplemen. Sepertinya mereka cuma memanggil ahli konseling dan ahli agama islam waktu membuka jurusan BKI. Kedua unsur itu ada tapi tidak menyatu.

Contoh paling mudah yang bisa kujelaskan adalah apa yang kulihat di jurusanku sendiri, Pendidikan Matematika. Semua orang berharap kami (sebagai lulus Pendidikan Matematika UIN) bisa menjadi lebih dari sekadar guru matematika. Mereka berharap kami bisa mengajarkan matematika dengan penghayatan nilai-nilai keislaman sebagai USP (Unique Selling Point) dari lulus UIN. Tapi materi kuliah yang mereka sampaikan di kelas dalam kenyataannya tidaklah mampu mencapai harapan mereka itu.

Apa mereka pikir dengan mencekoki kami mata kuliah Tafsir, Ilmu Kalam, Ushul Fiqh dan Akhlak Tasawuf mereka bisa membuat kami memahami bagaimana menyatukan ilmu matematika dengan ilmu keislaman? Salah besar! Bukan begitu caranya.

Kesalahan paling fatalnya adalah karena mereka terpaku pada kata menyandingkan. Bagaimana bisa kalkulus disandingkan dengan Tafsir? Diskrit dengan Ilmu Kalam? Analisis Real dengan Akhlak Tasawuf? Jawabannya adalah tidak bisa. Kita tak bisa menyandingkan keduanya. Kalau pun bisa semua itu hanya akan terkesan memaksa dan sama sekali kosong dari nilai yang kita harapkan akan muncul daripadanya.

Kata “menyandingkan” harus diganti dengan kata “bernafaskan”. Kalau kita harus membuat jurusan Bimbingan Konseling maka yang kita buat adalah jurusan Bimbingan Konseling yang bernafaskan Islam. Kalau kita harus membuat jurusan Manajemen Pendidikan maka yang kita buat adalah jurusan Manajemen Pendidikan yang bernafaskan Islam.

Perbedaan mendasar pada penggantian ini adalah masuknya ruh ajaran agama Islam ke dalam tiap bidang dengan tidak terpisah sama sekali. Sekarang kita tak perlu lagi mata kuliah akhlak tasawuf, lulusan jurusan pendidikan matematika bukan dididik untuk jadi ustad atau sufi. Lagi pula mereka tidak butuh cabang ilmu itu dalam mengajar nanti. Sebagai gantinya, kita akan butuh SDM dosen-dosen yang mumpuni yang benar-benar memahami secara menyeluruh bagaimana sebenarnya matematika yang berlandaskan Islam itu.

Beberapa tulisan berikut mungkin akan membuka wawasan kalian mengenai pengintegrasian tsb:
  • Janji dan Ancaman dalam Al-Qur’an sebagai dasar teori Besaran Vektor,
  • Urgensi Mempelajari Trigonometri sebagai dasar penentuan arah Kiblat dan Hilal,
  • Memahami hakikat Keesaan dan Ketidakterbatasan Tuhan dari grafik fungsi Tangen,
  • Peranan Faraidh dalam merangsang studi lanjutan atas Pecahan dan Aljabar,
  • Isyarat konsep Limit dalam Hadits tentang Nahi Munkar, 
  • Kejadian Acak sebagai Bukti Keterbatasan Manusia di Bawah Superiorias Tuhan,
  • (untuk sementara tulisan diatas sedang dalam penyempurnaan),

Kalau kalian tidak terlalu malas membuka dan membaca satu saja diantara beberapa tulisan yang kusajikan di atas, kalian akan mendapati bahwa pemisahan ilmu bumi dan ilmu langit, ilmu sains dan ilmu agama atau ilmu dunia dan ilmu akhirat adalah merupakan tindakan bodoh orang-orang berpaham sekuler yang sama sekali tidak memahami bahwa Islam sudah menyempurnakan ajarannya 1400 tahun yang lalu dalam satu syariat yang utuh.

Usaha penyatuan ini akan bertambah baik lagi jika saja SDM dosen matematika UIN mengetahui nama sejumlah matematikawan muslim yang muncul pada masa keemasan kekhalifahan Abbasiyah beserta dengan teori yang ia temukan. Dengan begitu diharapkan para mahasiswa muslim bisa memiliki keyakinan bahwa Ilmuwan Muslim mampu bersaing di dunia sains tanpa kehilangan iman.

Dengan adanya bingkai-bingkai yang jelas seperti itu, kita tidak akan lagi cemas guru-guru jebolan UIN akan memiliki paham sekuler yang akan semakin mirip orang kafir ketika bertambah ilmunya, Naudzubillah. Bingkai ini justru akan membantu mereka menemukan kebenaran ajaran Islam lewat diskusi dan pengembangan keilmuan sains.


Aku tidak akan cerita soal betapa sulitnya menemukan dosen cukup kompeten untuk mengajarkan semua konsep itu. Aku hanya berharap dosen matematika Universitas Islam Negeri yang nanti akan direkrut mau terus belajar dan memeperkaya wawasan keilmuan keislamannya. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Feel free to Comment..
Bagi yang punya email silakan komentar pakai akunnya,
Bagi blogger atau pengunjung lainnya gunakan nama dan url (supaya bisa disapa)

 

Tulisan Populer