Surat Untuk Orang Tua Murid

Rabu, 25 November 2015


Dengan hormat,

Sebelumnya saya mohon maaf karena lancang telah menulis surat konyol semacam ini karena sungguh saya tak tahu lagi kemana saya harus mengadukannya. Saya tahu saya hanya seorang siswa biasa yang bersekolah di sebuah SMA Negeri di Kota Medan tapi mohon dengarkanlah karena apa yang saya katakan berikutnya bisa jadi merupakan kenyataan yang terjadi pada semua siswa di kota atau bahkan negara ini.


Sebenarnya kehidupan sekolah saya tidak begitu buruk. Saya selalu juara umum di setiap semester. Saya punya prestasi yang cukup baik di bidang Bahasa Inggris dan Matematika. Saya sering mengharumkan nama sekolah di berbagai kejuaraan. Dan masih banyak hal baik lainnya yang akan semakin membuat anda tak percaya kalau sebenarnya saya benci sekolah ini.

Ya, walaupun saya punya sedemikian banyak prestasi yang membuat setiap orang tua iri pada orang tua saya, dengan ini saya katakan bahwa saya ingin berhenti sekolah. Saya ingin berhenti membuang-buang waktu dan mulai mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk masa depan saya.


DI SEKOLAH KESUKSESAN HANYA FATAMORGANA
Berhentilah berpura-pura! Kalian tidak bisa menipu kami lagi! Mengaku sajalah, kalian bukan mengirim kami ke sekolah supaya kami menjadi pintar atau orang yang berguna. Kami tahu satu-satunya alasan kalian mengirim kami ke sekolah adalah karena kalian tidak ingin repot-repot mendidik kami di rumah. Kami tahu kesuksesan yang kalian iming-imingkan itu cuma fatamorgana yang sebenarnya tak akan pernah kami dapatkan dari sekolah. Kami tahu itu!

Jika kalian memang mengaku menginginkan yang terbaik untuk kami coba jelaskan kenapa kalian tidak tahu bahwa apa yang yang diajarkan di sekolah sama sekali tidak ada gunanya dalam kehidupan dan dunia kerja? Jika kalian memang mengaku peduli mengapa kalian tidak ajarkan sendiri kami segala ilmu yang memang perlu kami ketahui?

Seharusnya orang tua berhenti menyerahkan tanggung jawabnya mendidik anak-anaknya sendiri pada sebuah lembaga berumur kurang dari 150 tahun yang belum terjamin keberhasilannya. Ketahuilah bahwa kami tidak butuh semua mata pelajaran yang aneh-aneh itu untuk sukses dan bertahan dalam persaingan kehidupan. Cukup ajari kami moral lewat pendidikan agama untuk bisa bergaul dengan baik dengan sesama manusia dan ajari kami berwirausaha agar kami bisa membuka lapangan pekerjaan kami sendiri. Karena kami telah melihat sendiri sudah ada terlalu banyak sarjana pengangguran yang tak punya keahlian apapun yang bisa diandalkan. Karena kami telah mendengar sendiri dari para karyawan yang diterima bekerja, hanya sedikit sekali dari apa yang mereka pelajari sekolah yang terpakai dan berguna dalam profesi mereka. Jadi apa gunanya sekolah?

Tolong, janganlah kalian ajari kami jadi pengemis gelar dan ijazah yang kelak akan merendahkan martabat ilmu. Karena kami tahu orang yang mengejar ilmu demi mendapatkan keduniawian hanya akan hancur dan terhina pada akhirnya.

Karena saya telah melihat sendiri banyak orang yang sekolah demi gelar, kerja dan uang kini telah menjadi sampah dan musuh masyarakat. Saya telah melihat banyak guru yang setengah hati waktu mengajar, banyak anggota pemerintah korupsi waktu menjabat, banyak dokter yang membuat virus dan menyebarkan penyakit, karena mereka bukan belajar dan bekerja demi mengabdi dan menebar manfaat. Mereka hanya belajar dan bekerja demi gelar dan mencari uang. Saya tidak ingin menjadi salah satu dari mereka nantinya.

Lebih baik kalian sekolahkan saja kami dalam kehidupan ini! Magang, berdagang dan berbaur dengan masyarakat telah terbukti jauh lebih berhasil mengajarkan karakter-karakter positif daripada cuma duduk di kelas mempelajari teori-teori membosankan tanpa pernah langsung terlibat. Dengan begitu bukan tidak mungkin kami bisa menjadi jenius seperti Bill Gates, Bob Sadino atau pengusaha muda lain. (jika kekayaan seperti itu yang kalian inginkan)


SEKOLAH HANYA MEMBUAT KAMI MATI SECARA SOSIAL
Jika kalian mengirim kami ke sekolah agar dapat berrsosial dan menjadi lebih bermoral, ketahuilah bahwa disini kami hanya dipisahkan dari orang tua kami. Kehidupan sekolah yang dimulai dari jam tujuh hingga jam lima membuat kami tidak bisa bergaul dengan orang tua atau adik-adik kami. Apa kalian pikir tanggung jawab kalian lepas dengan mengirim kami ke full-day school? Apa kalian benar-benar berpikir bahwa gedung yang tinggi bernama sekolah itu bisa menggantikan kalian dalam mendidik kami? Kalau memang begitu jangan salahkan jika kami kehilangan rasa hormat kami dan mulai melawan karena kami tidak diberi jam cukup untuk bergaul dengan orang tua kami dan mengambil pelajaran dari teladannya. Lagi pula, aku juga ragu apakah orang tua yang berlepas tangan seperti itu pantas menerima hormat dari anak-anaknya lagi.

Apa kalian benar-benar tidak tahu kalau yang sebenarnya kami inginkan hanyalah waktu berkumpul yang lebih lama dengan keluarga kami? Apa pendidikan memang sedemikian pentingnya sehingga perkembangan moral dan psikologi anak tidak lagi menjadi kebutuhan utama? Apa kami memang harus mencari pacar di sekolah hanya untuk menggantikan kasih sayang yang tidak kalian berikan? Jawablah karena kami menunggu.


SEKOLAH HANYA MEMBUAT KAMI LEBIH TIDAK BERMORAL
Jika kalian masih berpikir lembaga bernama sekolah itu cukup berhasil dalam menanamkan kedisiplinan, moral dan budi pekerti, biarkan aku menjelaskan bahwa di sini kami hanya dididik untuk mengharapkan nilai saat belajar, tidak ketahuan saat mencontek dan tutup mulut saat guru-guru kami memberi kami bocoran soal ujian. Nilai-nilai seperti itukah yang kalian ingin kami amalkan dalam kehidupan kami nanti?

Jika kalian berharap kami bisa belajar keteladanan dari guru-gurunya, ketahuilah bahwa guru-guru zaman sekarang tidak seperti apa yang dulu kalian biasa ceritakan. Guru-guru zaman sekarang hanya masuk memberi tugas dan mengisi absen untuk gajinya. Saya tidak tahu apakah mereka tidak mengerti materinya, tidak tahu bagaimana mengajarkannya atau hanya salah memahami cara belajar student-centered.


GOOGLE DAN BLOG PUN CUKUP
Kami tidak belajar apapun! Bukannya kami tak mencoba untuk diam dan mendengarkan, kami telah berusaha sebisanya tapi materinya memang tidak kami butuhkan di dunia nyata dan beliau memang tidak pandai menjelaskan. Jadi kami lebih memilih keluar kelas dan menemui pacar-pacar kami. Adapun nilai tinggi yang selalu kudapatkan itu bukan karena aku pelajaran yang kuterima darinya, ketahuilah bahwa semua itu kudapatkan dari sebuah mesin pencari di internet. Kalau kalian kira dunia masih sama ketahuilah bahwa sekarang zamannya Google, who needs school?

Zaman telah berubah, informasi bisa didapat darimana saja. Aku bisa jadi programer ahli hanya dengan belajar lewat internet. Kami tidak butuh waktu bertahun-tahun untuk menjadi ahli dalam bidang yang sudah menjadi bakat kami. Jadi jangan sia-siakan waktu kami dengan mengirim kami ke gedung berhantu bernama sekolah itu lagi.


Jika surat ini memang tersebar dan sampai kepada anda saya hanya berpesan jangan sia-siakan waktu dan bakat anak anda dengan membiarkannya pergi ke sekolah untuk mempelajari apa yang bukan minat dan bakat mereka. Jangan biarkan mereka menjadi robot hidup yang diatur dengan standar kaku yang nantinya akan mematikan akal dan kreativitas mereka. Biarkanlah anak anda mengetahui betapa menyenangkannya mempelajari ilmu yang sesuai dengan bakatnya dan biarkan ia bebas mengeksplorasi dan mempelajari apapun yang ingin ia pelajari di luar sekolah.


Medan, Oktober 2014

2 komentar

  1. sangat setuju. belum lagi dunia pendidikan telah keluar dari esensi pendidikan itu sendiri, yang ada hanyalah money oriented.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya bilang SEKOLAH itu PERUSAHAAN yang bergerak di bidang PENDIDIKAN yang menjual GELAR dan IJAZAH sebagai komoditas sedangkan orang tua adalah TARGET PASARnya.

      Selain menjual lembar ijazah mereka juga agen industri pariwisata dan tekstil. :)

      Hapus

Feel free to Comment..
Bagi yang punya email silakan komentar pakai akunnya,
Bagi blogger atau pengunjung lainnya gunakan nama dan url (supaya bisa disapa)

 

Tulisan Populer